Download E-Book

•Juni 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mayat Hidup Kesurupan Roh

Peristiwa Burung Kenari

Maling Romantis

Rahasia Ciok Kwan Im

Belajar bisnis internet

download aplikasi terbaru

•Juni 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

klite mega codec 561

photo slate

belajar bisnis internet

Download Naruto Bahasa Indonesia

•Juni 22, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Download disini:

Naruto 474 Bahasa Indonesia

Naruto 492 Bahasa Indonesia

Naruto 493Bahasa Indonesia

Naruto 494 Bahasa Indonesia

Naruto 495 Bahasa Indonesia

Naruto 496 Bahasa Indonesia

Naruto 497 Bahasa Indonesia

Naruto 498 Bahasa Indonesia

Naruto 499 Bahasa Indonesia

Naruto 500 Bahasa Indonesia

Baru Naruto 501 !!!


Naruto 501 Bahasa Indonesia


belajar web bisnis

HADIST DITINJAU DARI SEGI PENERIMAAN (ulumul hadist)

•Juni 15, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PENGGOLONGAN DAN KLASIFIKASI HADITS

2.1 Penggolongan Hadits Berdasarkan Banyak Rawi

2.1.1 Hadits Mutawattir

2.1.2 Hadits Ahad

2.2 Kladifikasi Hadits Berdasarkan diterima dan ditolaknya

Kualitas

2.3 Klasifikasi Hadits dari segi Kedudukan dalam Hujjah

2.3.1 Hadits Maqbul

2.3.2 Hadits Mardud

2.4 Klasifikasi dari segi perkembangan sanadnya

2.4.1 Hadits Muttasil

2.4.2 Hadits Munqati’

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

Semua umat Islam telah sepakat dengan bulat bahwa Hadits Rasul adalah sumber dan dasar hukum Islam setelah Al – Qur’an, dan umat Islam diwajibkan mengikuti dan mengamalkan hadits sebagaimana diwajibkan mengikuti dan mengamalkan Al – Qur’an.

Al – Qur’an dan hadits merupakan dua sumber hukum pokok syariat Islam yang tetap, dan orang Islam tidak akan mungkin, bisa memahami syariat Islam secara mendalam dan lengkap tanpa kembali kepada kedua sumber Islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang ulama pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan mengambil salah satu keduanya.

Banyak kita jumpai ayat – ayat Al – Qur’an dan Hadits – hadits yang memberikan pengertian bahwa hadits merupakan sumber hukum islam selain Al – Qur’an yang wajib diikuti, dan diamalkan baik dalam bentuk perintah maupun larangannya.

Hadits itu sendiri secara istilah adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik perkataan, perkataan, segala keadaan, atau perilakunya.

BAB II

PENGGOLONGAN DAN KLASIFIKASI HADITS

Secara konsepsional bahwa hadits itu dari satu segimdapat dibagi menjadi dua, yaitu kuantitas dan kualitas. Yang dimaksud segi kuantitasnya adalah penggolongan hadits ditinjau dari banyaknya rowi yang meriwayatkan hadits. Sedangkan hadits berdasarkan kualitasnya adalah penggolongan hadits dilihat dari aspek diterimanya atau ditolaknya.

selengkapnya download di:

http://www.ziddu.com/download/10296077/makalahulumulhadits.rar.html

http://contohskripsi.com/erna1990

QADHA DAN QADAR (tasawuf)

•Juni 15, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

DAFTAR ISI

BAB I    PENDAHULUAN

BAB II   PEMBAHASAN

  1. Pengertian
  2. Qadar atau Takdir
  3. Kewajiban Beriman Kepada Takdir
  4. Hikmat Keimanan kepada Takdir

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

Pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantui manusia dalam hidupnya adalah dari manakah ia berada (di dunia ini), kemanakah ia akan dikembalikan kelak dan apakah tujuan dari keberadaannya ini?

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan manusia kepada dirinya sepanjang masa ini memerlukan jawaban yang jitu dan memuaskan, supaya ia, berdasarkan jawaban tersebut, dapat mengambil sikap yang tegas dalam kehidupannya, meluruskan perilakunya dan menegakkan undang-undang ideal yang diminati oleh masyarakatnya.

Disini akan dibahas suatu masalah yang kami anggap sangat penting bagi kita umat Islam, yaitu masalah Qadha’ dan Qadar. Mudah-mudahan Allah Ta’ala membukakan pintu karunia dan rahmatNya bagi kita, menjadikan kita termasuk para pembimbing yang mengikuti jalan kebenaran dan para pembina yang membawa pembaharuan.

Sebenarnya masalah ini sudah jelas. akan tetapi kalau bukan karena banyaknya pertanyaan dan banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami masalah ini serta banyaknya orang yang membicarakanya, yang kadangkala benar tetapi seringkali salah; di samping itu tersebarnya pemahaman – pemahaman yang hanya karena mengikuti hawa nafsu dan adanya orang –orang fasik yang berdalih dengan qadha’ dan qadar untuk kefasikannya; seandainya bukan karena itu semua, niscaya kami tidak akan berbicara tentang masalah ini.

Sudah sejak duhulu masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar menemui shahabatnya , ketika itu mereka sedang berselisih tentang masalah Qadha’ dan Qadar (takdir) maka beliau melarangnya dan memperingatkan bahwa kehancuran umat – umat terdahalu tiada lain karena perdebatan seperti ini.


BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. PENGERTIAN

Qodha adalah ketetapan atau ketentuan Allah yang sudah dibuat dari masa azzali yaitu masa yang tidak ada batas waktunya. Artinya dari dulu yang tidak diketahui kapan itu oleh manusia. Sedangkan qadar adalah ukuran atau ketetapan suatu kejadian yang muncul setelah kejadian itu diciptakan. Dan takdir adalah etetapanyang telah dibuat Tuhan untuk suatu perbiatan.[1] Percaya terhadap qadha dan qadar adalah rukun iman yang keenam. Ringkasan kepercayaan ini ialah bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini, atau terjadi pada diri kita manusia sendiri, buruk dan baik, naik dan jatuh, senang dan sakit dan segala gerak gerik hidup kita, semuanya tidaklah lepas dari takdir atau ketentuan Ilahi.

selengkapnya silahkan download di:

http://www.ziddu.com/download/10295946/Makalahtasawuf.rar.html


[1] Rahman Ritonga, Akidah, (Surabaya: Amelia, 2005), hal. 89

NASAKH DAN MANSUKH (Ushul Fiqih)

•Juni 14, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

NASAKH DAN MANSUKH

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Nasakh
  2. Rukun Nasakh
  3. Syarat-Syarat Nasakh
  4. Macam-Macam Nasakh
  5. Pembagian Nasakh
  6. Cara mengetahui Nasikh-Mansukh
  7. Hikmah Nasakh

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’an sebagi mu’jizat Nabi Muhammad, ia merupakan panduan dasar bagi umat Islam selain al-Hadis dalam menetapan hukum Islam. Sebagai Huda al-Nash al-Qur’an memiliki kekayaan dimensi hukum, baik dalam hal sifat universalitasnya maupun bentuk pola-pola hukum syara’ yang tidak terlepas dari aspek sosio cultural masyarakat Arab saat itu. Sebab, diakui atau tidak turunnya al-Qur’an secara bertahap adalah terkait dengan problem masyarakat arab waktu itu.

Dalam kerangka itu, dalam menetapkan dan menggali hukum Islam yang tertuang dalam al-Qur’an, tentunya dibutuhkan alat untuk mengupas dimensi hukumnya. Antara lain ilmu Qur’an yang didalamnya terdapat kajian seperti tafsir, muhkam mutasyabih, Al-Nasakh Wa al-Mansukh dan yang lainnya serta pemahaman kaidah ushuliyah dan fiqhiyah.

Al-Nasakh Wa al-Mansukh sebagai salah satu bagian dalam kajian ulumul Qur’an, memiliki kontribusi yang sangat penting, sebab dengan memahaminya kita akan mampu memahami apakah hukum yang termaktum dalam ayat-ayat Qur’an tersebut masih berlaku atau tidak.

Betapa pentingnya menguasai ilmu Nasakh Mansukh dalam suatu Riwayat sahabat Ali ketika meliwati seorang hakim mengatakan “apakah engkau mengetahui nasakh” dan orang itu menjawab “tidak” maka Ali berkata “celakalah kamu dan mencelakakan orang lain”. Dari riwayat tersebut dapat di pahami bahwa eksistensi Nasakh Mansukh dalam Istinbath Hukum adalah mutlak adanya, sebab dengan tidak memahaminya, hukum yang lahir akan jauh dari prinsip dasar pensyariatan (Maqosid al-Syar’i).

Oleh karena itu, makalah ini mencoba menguraikan apa, dan bagaimana sebenarnya Al-Nasakh Wa al-Mansukh.


BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1. Pengertian Nasakh

Dari segi bahasa (lugah) naskh bisa diartikan sebagai pembatalan atau penghapusan[1], misalnya dalam kalimat:

نَسَخَتْ الرِّيَاحُ أَثَارَ الْقَوْمِ

Artinya: “Angin telah menghapus jejak suatu kaum”

Sedangkan definisi nasakh menurut ulama ushul fiqih, yang masyhur ada dua yaitu:

بَيَانُ انْتِهَاءِ اَمَدِّ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ بِطَرِيْقٍ شَرْعِيٍّ مُتُرَاخٍ عَنْهُ

Artinya: “Penjelasan berakhirnya masa berlaku suatu hukum melalui dalil Syar’i; yang datang kemudian.”

رَفْعِ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ عَنِ الْمُكَلَّفِ بِحُكْمٍ شَرْعِيٍّ مِثْلِهِ مُتَأَخِّرٍ

Artinya: “Pembatalan hukum syara’ yang ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama yang datang kemudian.”

Sedangkan secara etimologis kata nasakh (النسخ) dalam bahasa arab digunakan dengan arti الارلة, artinya menghilangkan atau meniadakan contohnya:نسخت الشمس الظل (matahari menghilangkan kegelapan) atau نسخت الرياح اثار المشي (angin melenyapkan jejak kaki).

Terkadang kata itu digunakan dengan arti النقل yaitu pemindahan atau mengalihkan sesuatu. Menghubungkan dari suatu keadaan kepada bentuk lain disamping masih tetapnya bentuk semula.[2]

selengkapnya silahkan download di:

http://www.ziddu.com/download/10288305/nasakhmansukh.rar.html

Belajar Web Bisnis


[1] Rahmat Syafi’i, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 231

[2] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqih, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu), hal. 21

MATERI PENDIDIKAN QUR’AN HADIST (ULUMUL QUR’AN)

•Juni 14, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

ULUMUL QUR’AN

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Ulumul Qur’an
  2. Objek Ulumul Qur’an
  3. Sejarah Pertumbuhan Ulumul Qur’an

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Penekanan Materi
  3. Pengembangan Materi

DAFTAR PUSTAKA

Al-qur’an adalah kalammullah yang diturunkan kepada nabi muhammad lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya.

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q.S.An-Nahl 89)

Mempelajari isi Al-qur’an akan menambah perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu menemui hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya.Firman Allah :

“Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S.Al-A’raf 52)

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi Al-qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-qur’an dengan bantuan terjemahnya sekalipun tidak mengerti bahasa Arab. Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Bahkan di antara para sahabat dan tabi’in ada yang salah memahami Al-Qur’an karena tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui isi kandungan Al-Qur’an diperlukanlah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana, tata cara menafsiri Al-Qur’an. Yaitu Ulumul Qur’an atau Ulum at tafsir. Pembahasan mengenai ulumul Qur’an ini insya Allah akan dibahas secara rinci pada bab-bab selanjutnya.


BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Ulumul Qur’an

Kata ulumul qur’an tersusun dari dua kata secara idhofi (kalimat yang terdiri dari mudhofad mudholifah) yaitu kata ulum di idhofahkan pada kata al-qur’an. Dari dua unsure kata tersebut akan makna kata ulum dan kata al-quran. Kemudian akan dibahas pula pengertian ulumul qur’an dan mengapa menggunakan bentuk jamak Oumul Qur’an.

  1. Arti kata Ulum

Kata ulum secara etimologi adaalah jamak dari kata ilmu. Menurut kata ilmu adalah masdar yang mempunyai arti paham atau makrifat. Sebagian pendapat, kata ilmu merupakan isim jinisyang berarti luan. Kemudian kata ilmu mi berkembang dalam berbagai istilah dan li sebagai nama dari pengetahuan tentang al-qur’an.

Para ahli filsafat, mendefinisan kata ilmu sebagai suatu gambaran suatu yang terdapat dalam akal. Oleh para ahli teologi kata ilmu didefinisikan suatu sifat yang dengan sifat itu orang yang mempunyainya akan jelaslah baginya sesuatu urusan. Menurut Abu Musa Al-Asy’ari, ilmu itu ialah sifat yang mewajibkan pemiliknya mampu membedakan dengan panca inderanya. Adapun menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab ikhya’ ullumuddin, secara umum arti ilmu dalam istilah syarak adalah makrifat Allah, terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya, terhadap perbuatan-Nya, pada hamba-hamba-Nya dan makhluk-Nya. Di dalam kitab manahilul irfan,Muhammad Abd. ‘Adhim mengatakan: ilmu menurut istilah adalah ma’lumat-ma’lumat (hal-hal yang sudah diketahui) yang rumudan dalam satu kesatuan judul atau kesatuan tujuan. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan ilmu ialah masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam satu disiplin pengetahuan yang terdapat dalam akal pikiran.

selengkapnya silahkan download di:

http://www.ziddu.com/download/10288236/UumulQuran.rar.html

Belajar Web Bisnis

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.