AL HAKIM (PEMBUAT HUKUM) (Metodologi Studi Islam)

AL HAKIM (PEMBUAT HUKUM)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

A.  AL-HAKIM (SANG PEMBUAT HUKUM)

B.  TOLOK UKUR PERBUATAN

C.   KETERIKATAN PADA HUKUM SYARA’

D.   ATURAN ISLAM MEMBAWA KEMASLAHATAN

E.   SEKITAR HUKUM

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

Allah SWT telah menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai sebaik-baiknya makhluk dengan memberikan akal yang mampu membedakan baik dan buruk. Allah SWT telah ciptakan dalam diri manusia potensi kehidupan (thaqatul hayawiyah) berupa kebutuhan naluri (gharaa’iz) yang terdiri dari naluri beragama (gharizatut tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa) serta naluri melangsungkan keturunan (gharizatun nau’).  Di samping itu Allah SWT juga telah menciptakan potensi kehidupan lainnya berupa kebutuhan jasmani  (Hajatul Adlawiyah) yang penampakannya berupa berupa rasa lapar, rasa haus, rasa kantuk, bernafas, keinginan buang hajat dan lain-lain. Berdasarkan potensi kehidupan yang dimilikinya inilah manusia menjalani kehidupannya di dunia.

Dengan adanya potensi kehidupan berupa kebutuhan jasmani dan kebutuhan naluri inilah manusia menjalani kehidupannya sehari-hari. Atau dengan kata lain apapun yang dilakukan manusia selama hidup didunia adalah dalam rangka memenuhi seluruh kebutuhan mereka tersebut. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut manusia akan menggunakan berbagai benda dan sarana yang dapat dimanfaatkan.

Agar seluruh pemenuhan kebutuhan tersebut berjalan dengan baik dan menghasilkan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan, maka manusia harus terlebih dahulu mengetahui status hukum perbuatan (Al-Af’aal) serta benda (Al-Asy-yaa’) dalam rangka pemenuhan tersebut; baik atau buruk, serta apakah mendatangkan manfaat atau memberikan mudharat baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu manusia harus terlebih dahulu mengetahui siapa yang berhak mengeluarkan status hukum baik atau buruk terhadap perbuatan manusia serta status baik dan buruk terhadap benda-benda yang digunakan dalam menjalankan aktivitasnya. Selain itu, juga harus diketahui kepada hukum siapakah manusia wajib terikat.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Al-Hakim (Sang Pembuat Hukum)

Pembahasan yang paling penting yang berkaitan dengan hukum, yang pertama, yang paling mendesak untuk dijelaskan adalah pengetahuan tentang siapa yang menjadi rujukan sumber hukum, maksudnya siapa al-hakim itu, karena pengetahuan atas hukum dan kategorisasinya tergantung pada pengetahuan tentang al-hakim tersebut. Dan yang dimaksud dengan al-hakim disini bukanlah pemegang kekuasaan yang menerapkan semua hal yang dia memiliki kekuasaan atas hal tersebut, tapi yang dimaksud dengan al-hakim disini adalah yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan hukum atas perbuatan dan sesuatu.[1] Sebab apa saja yang ada yang bersifat indrawi tidak akan kaluar dari kategori sebagai perbuatan manusia atau sesuatu yang tidak termasuk perbuatan manusia. Ketika manusia dengan sifatnya sebagai manusia yang hidup di dalam alam semesta ini menjadi obyek bahasan, maka pengeluaran hukum adalah karena manusia dan berkaitan dengannya. Karenanya adalah merupakan keharusan adanya hukum atas perbuatan manusia dan sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan manusia tersebut.

selengkapnya silahkan download:

http://www.ziddu.com/download/10281393/Alhakim.rar.html

Belajar Web Bisnis


[1] http://fadhliyafas.blogspot.com/2008/04/memahami-ushul-fiqh-al-hakim.html

~ oleh ernawati90 pada Juni 14, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: